Selasa, 30 September 2014

I BELIEVE OF




By Sarah Aprilia (Teman Ku)
 sarahaprilia607@yahoo.com
 
I BELIEVE OF.......

Setiap dentakan jarum jam, terdengar seperti alunan nada yang mengejar sisa waktuku. Entah sampai kapan aku akan bertahan melawan dan menahan rasa sakit ini, penyakit yang tak pernah kubayangkan akan ku alami saat ini, LUPUS ,hampir setengah tahun aku mengidap penyakit ini. Lelah dan putus asa mendatangi tiap harinya, setiap detiknya terpikirkan untuk menyerah melawan penyakit  ini, tapi aku tak semudah itu untuk menyerah. Aku punya mimpi yang harus segera kuwujudkan. Mimpi yang sebegitu besarnya sampai membuat hati ini yakin akan kesembuhan . and i believe it.
Penyakit ini mulai ganas saat aku lulus dari bangku sekolah. Entah apa yang mengundang penyakit ini, sehingga dia berdiam diri di tubuhku.  Awalnya terasa biasa , tapi lama kelamaan mereka memakan habis sistem imun dalam tubuh ini. Benalu, mungkin kata yang tepat untuk penyakit ini. Mereka akan menempel untuk jangka waktu yang cukup lama atau selamanya dan perlahan dia akan menyebar dan  menghancurkan harapan ku.....  
                Aku bukanlah orang hebat,  yang sanggup menghadapi kenyataan yang serta mendadak seperti ini. Kenyataan yang membuat mimpiku terasa buram dan tak terlihat. Tapi aku hanyalah seorang pemimpi yang entah harus berjalan di jalur apa saat ini . Hidupku  mulai terasa sesak dan sempit. Gerakku mulai melambat dan akhirnya aku hanya bisa terbaring lemah di kasur rumah dan terkadang di kasur rumah sakit saat penyakit ini mulai berontak. Ingin sekali aku berbaikan dengan penyakit ini, tapi apa daya usahaku selama ini tak ada hasil... hanya semangat dari seluruh keluarga dan temanlah yang membuatku terus berjuang sampai saat ini....
                Ahh... ada salah satu dokter yang merawat ku berkata “ tak usah sedih, tak ada satupun penyakit yang tak ada penawarnya. Sebenarnya penawar penyakit ini sangatlah mudah, yaitu fikiran dan hati kita harus selalu positive”. Mendengar perkataanya , aku masih tak percaya “apaan dok? Jelaskan kalau penyakit ini ga ada obatnya, lagipula tak ada harapan untuk aku terus hidup kan ?” aku berkata tanpa sadar dengan tetesan air mata. Dokter itu hanya tersenyum dan berkata “ kamu masih punya kesempatan jika kamu mau mencari kesempatan itu” setelahnya dia keluar dari ruanganku dengan senyumnya. Sesaat aku bingung dengan perkataanya, mencari kesempatan itu sendiri. Aku bingung apa maksud dari perkataan dokter itu....
                Keesokan harinya dia datang dengan perawat yang membawa jarum suntik dan cairan yang entah terbuat dari apa.
“bagaimana ? sudah enakan ?” sambil memasukan suntikan kedalam alat infusku.
“ lumayanlah dok... ehh saya boleh tanya ?”
“ boleh... selama saya bisa menjawabnya” dengan senyumnya
“ bagaimana perasaan dokter jika bertukar posisi dengan saya saat ini?” tanyaku ragu
Sejenak dokter itu memandangku dan tersenyum “hmm... mungkin saya akan frustasi” mendengar jawabannya membuat diri ini lebih terpukul lagi.
“tapi.... kalo saya berada di posisi kamu saat ini, mugkin saya akan lebih menghargai waktu dan tak menyia-nyiakan kesempatan yang didepan mata.” Lanjutnya dengan tenang
“ maksud mencari kesempatan itu apa dok ?” tanyaku dengan lantang , dan berharap dia bisa memberiku secercah harapan untuk terus  hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar