By Sarah Aprilia (Teman Ku)
sarahaprilia607@yahoo.com
I
BELIEVE OF.......
Setiap dentakan jarum jam, terdengar seperti
alunan nada yang mengejar sisa waktuku. Entah sampai kapan aku akan bertahan
melawan dan menahan rasa sakit ini, penyakit yang tak pernah kubayangkan akan
ku alami saat ini, LUPUS ,hampir setengah tahun aku mengidap penyakit ini.
Lelah dan putus asa mendatangi tiap harinya, setiap detiknya terpikirkan untuk
menyerah melawan penyakit ini, tapi aku
tak semudah itu untuk menyerah. Aku punya mimpi yang harus segera kuwujudkan.
Mimpi yang sebegitu besarnya sampai membuat hati ini yakin akan kesembuhan .
and i believe it.
Penyakit ini mulai ganas saat aku lulus dari
bangku sekolah. Entah apa yang mengundang penyakit ini, sehingga dia berdiam
diri di tubuhku. Awalnya terasa biasa ,
tapi lama kelamaan mereka memakan habis sistem imun dalam tubuh ini. Benalu,
mungkin kata yang tepat untuk penyakit ini. Mereka akan menempel untuk jangka
waktu yang cukup lama atau selamanya dan perlahan dia akan menyebar dan menghancurkan harapan ku.....
Aku
bukanlah orang hebat, yang sanggup
menghadapi kenyataan yang serta mendadak seperti ini. Kenyataan yang membuat
mimpiku terasa buram dan tak terlihat. Tapi aku hanyalah seorang pemimpi yang
entah harus berjalan di jalur apa saat ini . Hidupku mulai terasa sesak dan sempit. Gerakku mulai
melambat dan akhirnya aku hanya bisa terbaring lemah di kasur rumah dan
terkadang di kasur rumah sakit saat penyakit ini mulai berontak. Ingin sekali
aku berbaikan dengan penyakit ini, tapi apa daya usahaku selama ini tak ada
hasil... hanya semangat dari seluruh keluarga dan temanlah yang membuatku terus
berjuang sampai saat ini....
Ahh...
ada salah satu dokter yang merawat ku berkata “ tak usah sedih, tak ada satupun
penyakit yang tak ada penawarnya. Sebenarnya penawar penyakit ini sangatlah
mudah, yaitu fikiran dan hati kita harus selalu positive”. Mendengar
perkataanya , aku masih tak percaya “apaan dok? Jelaskan kalau penyakit ini ga
ada obatnya, lagipula tak ada harapan untuk aku terus hidup kan ?” aku berkata
tanpa sadar dengan tetesan air mata. Dokter itu hanya tersenyum dan berkata “
kamu masih punya kesempatan jika kamu mau mencari kesempatan itu” setelahnya
dia keluar dari ruanganku dengan senyumnya. Sesaat aku bingung dengan
perkataanya, mencari kesempatan itu sendiri. Aku bingung apa maksud dari
perkataan dokter itu....
Keesokan
harinya dia datang dengan perawat yang membawa jarum suntik dan cairan yang
entah terbuat dari apa.
“bagaimana ? sudah enakan ?” sambil memasukan
suntikan kedalam alat infusku.
“ lumayanlah dok... ehh saya boleh tanya ?”
“ boleh... selama saya bisa menjawabnya”
dengan senyumnya
“ bagaimana perasaan dokter jika bertukar
posisi dengan saya saat ini?” tanyaku ragu
Sejenak dokter itu memandangku dan tersenyum
“hmm... mungkin saya akan frustasi” mendengar jawabannya membuat diri ini lebih
terpukul lagi.
“tapi.... kalo saya berada di posisi kamu saat
ini, mugkin saya akan lebih menghargai waktu dan tak menyia-nyiakan kesempatan
yang didepan mata.” Lanjutnya dengan tenang
“ maksud mencari kesempatan itu apa dok ?”
tanyaku dengan lantang , dan berharap dia bisa memberiku secercah harapan untuk
terus hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar